Saturday, June 8, 2013

Dengarlah Nyanyian Hujan: Baca Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni

Bulan Juni biasanya identik dengan liburan, tapi buat kami Juni juga identik dengan hal lain: hujan.



Puisi adalah doa. Doa selalu bergerak antara ekspresi yang berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin mengerti dan rasa takjub yang juga takzim, Demikian kata Goenawan Mohammad. Kali ini BBI mencoba belajar mengapresiasi puisi, dengan membaca karya puisi-puisi Bapak Sapardi Djoko Damono. Belajar mengapresiasi tentu saja belajar mengenai siapa penyair, apa karya-karyanya dan bagaimana menangkap pesan-pesan puisinya. Puisi-puisi yang menjadi bacaan adalah kumpulan pilihan puisi dalam Buku "Hujan Bulan Juni." Buku ini dipilih karena dianggap mewakili kepenyairan Pak Sapardi selama 30 tahun, dan tentu saja karena bulan ini  Bulan Juni :)

Sapardi Djoko Damono menulis sebuah kumpulan puisi berjudul Hujan Bulan Juni tahun 1994. Hingga kini, buku ini menjadi salah satu masterpiece Sapardi Djoko Damono, bahkan bisa dibilang salah satu karya sastra Indonesia terbaik yang masih banyak dibaca, terutama karena banyak karyanya yang paling termahsyur termuat di sini.

Buku tersebut dicetak oleh Grasindo, tahun 1994. Mungkin sudah tidak adalagi dijual di toko buku, namun jangan khawatir kita beruntung teman-teman Goodreads Indonesia sudah mengetiknya dan membaginya di grup GRI. Terima kasih kak Roos!

Pak Sapardi sudah menulis ratusan puisi sejak usia belasan tahun hingga saat ini. Namun belum semua puisinya kita nikmati. Guru besar Sastra Universitas Indonesia ini dianggap penyair yang mampu memadukan bakat alam serta wawasan sastra, dan itu tergambar dalam karya-karya puisinya. Berikut adalah ringkasan yang disarikan dari beberapa tulisan dalam buku "Membaca Sapardi" terbitan Yayasan Obor Indonesia (2010)

Tentang Sapardi
Sapardi menyelesaikan kuliah sastranya di Universitas Gajah Mada (1964). Ia harus menyelesaikan skripsinya dalam waktu dua minggu karena dosen pembimbingnya, Prof Kenneth Lendon diusir Soekarno pulang ke Inggris. Sapardi banyak terpengaruh dengan puisi-puisi TS Elliot sejak SMA.

Buku Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni merupakan gambaran kepenyairan Sapardi selama 30 tahun lebih.Sapardi dikenal sebagai penyair yang bukan hanya mengandalkan bakat alam, namun juga mengintegrasikannya dengan wawasan yang membawa pemahaman yang lengkap akan puisi dan sastra. Konsep puisi menurut Brooks (1947) adalah kesatuan struktural yang di dalamnya berkelindan sejumlah unsur yang membangunnya. Kesatuan struktural berupa makna hadir dalam puisi yang ditentukan oleh keberlindanan sejumlah unsur seperti metafor, imaji, simbol, paradoks, ironi, atau majas lainnya.

Kepenyairan Sapardi menurut pengakuannya sendiri adalah "penyair biasa-biasa", dalam artian bahwa ia tidak mengalami pengalaman/petualangan hidup yang menegangkan. Kata-kata dalam bait-bait puisinya cenderung tampak sederhana atau biasa-biasa saja. Namun, sederhana itu lebih menyiratkan makna bahwa Sapardi piawai dalam soal teknik/penggarapan (Sunu Wasono).

Pada dasarnya kata-kata dalam puisi menemukan takdirnya sendiri ketika keluar dari penyair lalu dibaca oleh pembacanya. Artinya, puisi menjadi dimultitafsirkan oleh pembacanya, bahkan boleh jadi melebihi pesan yang ingin disampaikan penyairnya. Sapardi mengatakan, "Kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.Kata-kata tidak sekedar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair, seperti peran kata-kata dalam bahasa sehari-hari dan prosa umumnya, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun peranannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan,namun yang utama adalah sebagai obyek yang mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata dalam bukan puisi.
 
Seluruhnya, antologi puisi Hujan Bulan Juni memuat 96 buah puisi yang beberapa di antaranya diambil dari kumpulan puisi terdahulu; Duka-Mu Abadi, Sihir Hujan, Perahu Kertas, atau Akuarium. Kumpulan puisi ini memuat karya Sapardi yang ditulisnya sejak 1964 hingga 1994, Dengan demikian, kita dapat melihat kolaborasi bakat alam serta wawasan sastranya dalam kurun waktu tiga dekade. Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari kehidupan spiritualitas, soal lingkungan, perasaan rindu dan tabah, dan sebagainya. Meski kata-kata (terkesan) sederhana, namun puisi Sapardi tidaklah sederhana, bahkan sangat problematik dan melibatkan persoalan psikologis yang rumit dan kompleks (Maman S. Mahayana).
Maman S. Mahayana menulis demikian:

Perhatikan makna tekstual bait pertama puisi (Hujan Bulan Juni) itu:
"tak ada yang lebih tabah/dari hujan bulan juni/dirahasiakan rintik rindunya/kepada pohon berbunga itu"//
Jadi, di antara fenomena alam ini, hujan Bulan Juni dianggap yang paling tabah. Sebab, begitu sabarnya ia menyembunyikan kerinduannya untuk bersentuhan dengan pohon (yang berbunga). Frasa "lebih tabah" tersirat menunjukkan perbandingan (dengan hujan yang turun pada bulan-bulan yang lain). Kata "tabah" sendiri merupakan ekspresi kebertahanan dengan segala kesabaran, menunggu, merasakan, dan memendam sebuah gejolak. Ternyata itu gejolak rindu pada pohon yang berbunga. Lalu, apa maknanya bagi kita ketika puisi itu sekadar berbicara tentang kerinduan hujan pada pohon yang berbunga?

Di situlah, teks dengan makna denotatifnya, tidak berhenti disana. Masih ada makna lain yang mesti diterjemahkan: makna konotatif. "Hujan Bulan Juni," "rintik rindu," "pohon berbunga," adalah kata-kata simbolik. Di dalamnya,mendekam sejumlah makna.

Setelah tahu, lalu bagaimana?
Sebelumnya, awal dari event ini bermula dari perbincangan saya dengan Bang Helvry (alias Pak Korum) mengenai SoundCloud dan Sapardi Djoko Damono.  Akhirnya tercetuslah ide untuk membaca bareng buku puisi ini. Tapi daripada baca buku seperti biasa, kenapa gak bareng-bareng kita rekam suara kita saat baca puisi, lalu di-upload di SoundCloud? Banyaknya anggota BBI yang memiliki akun soundcloud dan membacakan berbagai karya literatur - mulai dari cerpen, puisi, hingga dongeng. Hal ini menunjukkan bahwa kini, karya tulis tak hanya dapat dinikmati dengan mata, tapi juga dengan telinga. Karya tulis kini menjadi semakin "ramah" untuk masyarakat dan mudah dinikmati.

Untuk ikutan baca kumpulan puisi Hujan Bulan Juni ini gampang saja. Kamu cuma harus mengisi form ini. Gampang kan? Jika tidak punya buku Hujan Bulan Juni, saya akan mengirimkan e-book buku ini via e-mail.
Kamu diminta untuk merekam puisi dari Kumpulan Puisi tersebut. Caranya: Tentukan-Rekam-Simpan-Unggah-Bagi
Pertama, tentukan puisi apa yang mau dibaca,
Kedua, rekam puisi tersebut
Ketiga, simpan puisi tersebut.
 
Keempat, unggah puisi tersebut di situs seperti soundcloud.com atau sejenisnya.

Kelima, setelah kamu mendaftar, kamu akan dikirimkan google spreadsheet melalui e-mailmu. Kemudian bagi tautan file unggahan tersebut, melalui file google spreadsheet tersebut.

Ayo mengenal bulan Juni lewat puisi dan nada-nada hujan..

10 comments:

  1. Ada batas waktu untuk unggah puisi-nya ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak ada kok kak, selama bulan Juni pokoknya :)

      Delete
  2. pengen nyoba tapi nggak punya bakat baca puisi :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak perlu bakat kak, yang penting niat ;)

      Delete
  3. sdabf blajar baca puisi temen yg ngefans abis sma SDD...tpi masih ga pede ikutan event ini :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. pede aja kak, gak usah minder.. kan semuanya juga masih belajar ;)

      Delete
  4. udah mulai latihan... hahahah... XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. wihihihi, latihannya sehari berapa kali teh? :p

      Delete
  5. aplot baru daftar...boleh gak, Ndari :D *dikeplak

    ReplyDelete
  6. yaaaaaaah, aku ketinggalan dong? :'( tapi mau dong dikirimin ebook-nya

    ReplyDelete