Showing posts with label BBI. Show all posts
Showing posts with label BBI. Show all posts

Tuesday, July 2, 2013

Tema Baca Bareng BBI Juli 2013

Haaaaaiiiii! Kembali lagi di postingan tema baca bareng BBI bulan ini. Senangnyaaaa udah bulan Juli. Ini bulan liburaaaan! (buat anak sekolah aja sih) Walaupun liburan, baca dan mereview harus jalan terus ya.. Jangan belanja buku lalu ditimbun melulu :D *ngomong gini sambil ngumpetin timbunan di rumah* Tak usah berlama-lama, untuk bulan Juli ini ada dua tema yang bisa dibaca:

Saturday, June 8, 2013

Monday, June 3, 2013

Tema Baca Bareng BBI Juni 2013


Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, setiap awal bulan saya akan membuat posting tentang buku-buku yang berada di dalam tema baca bareng BBI. (tema selengkapnya bisa dilihat di sini)

Untuk bulan Juni ini, temanya adalah sastra Eropa dan romance.



Thursday, May 9, 2013

Tema Baca Bareng BBI Mei 2013


Mulai bulan ini, saya akan menuliskan sebuah posting di awal bulan mengenai tema-tema baca bareng yang Divisi Event telah tetapkan, mengingat banyak yang bingung memilih buku apa yang tepat dan tidak melenceng dari tema.

(Tema baca bareng BBI bulan Februari-Desember bisa dilihat di sini)

Monday, May 6, 2013

Rapid Fire Questions

Hari Jumat saya yang damai terusik dengan ramainya grup BBI Bajaj di WhatsApp yang sibuk ngomongin PR. Waduh, PR apakah ini? Apakah saya buka grup yang salah? Atau apa saya bermimpi masih ada di sekolah? Apa dinosaurus tidak jadi punah?

Walah, ternyata PR yang dimaksud adalah setumpuk pertanyaan dari Kak Putri. Nah, pertanyaan seperti apa? Lebih susah dari UN gak ya? Itu masih misteri buat saya waktu itu.

Tuesday, April 30, 2013

Semusim, dan Semusim Lagi - Andina Dwifatma

Judul: Semusim dan Semusim Lagi
Penulis: Andina Dwifatma
Halaman: 232 hlm
Rilis: April 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9789792295108

Ketika saya menemukan buku ini di toko buku, saya menganggap semua hal yang terlihat dalam tampak luar buku ini adalah kontradiktif. Absurd. Bagaimana tidak? Kita lihat saja kavernya. Apa coba, hubungan musim dengan ikan mas koki? Gimana pula ceritanya ikan mas koki bisa duduk dengan santainya?

Monday, April 29, 2013

Close Up Interview with BBI: Dessy Roshinta

Untuk merayakan ulang tahun Blogger Buku Indonesia atau BBI yang kedua, para anggota BBI diberi kesempatan untuk mewawancarai anggota BBI lainnya. Karena dengan semakin banyaknya anggota BBI sekarang, mungkin ada beberapa dari kita yang sudah mengetahui satu sama lain, tapi belum mengenal lebih dalam. Nah.. Ketika Kak Mia mengabari aku bahwa aku akan mewawancarai Kak Dessy, aku senang banget, karena memang aku sudah lama follow Kak Dessy di twitter dan blog (bukan stalking lho ya) dan kagum dengan bacaannya yang keren-keren.

BBI Second Giveaway Hop Winners!

Hai hai!
Maaf baru sempat untuk mengumumkan pemenang giveaway, molor dua hari dari janji saya sebelumnya. *menunduk malu*
Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk para peserta yang sudah berpartisipasi dalam giveaway ini. Yang belum beruntung, jangan sedih. Dicoba lagi peruntungannya di giveaway di blog ini selanjutnya ya :)

Dan yang berhak mendapatkan hadiah dari BBI Second Giveaway Hop ini adalah..

Saturday, April 13, 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop


                                             



Selamat ulang tahun, BBI! *siapin tart dari bakpao dan Fanta*
Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, untuk meramaikan ultah BBI yang kedua ini, saya mengadakan giveaway di blog ini!

Selamat ulang tahun, BBI.





Terima kasih untuk 2 tahun yang menyenangkan ini.

Wednesday, March 27, 2013

Waiting - Ha Jin




Judul: Waiting
Penulis: Ha Jin
Halaman: 308 hlm
Tanggal rilis: 1 Januari 1991
ISBN 0375706410 (ISBN13: 9780375706417)

(Review ini ditulis untuk meramaikan Baca Bareng Maret dengam tema Sastra Asia)

Thursday, January 31, 2013

Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer



“ Cerita..selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia.. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biarpun penglihatanmu setajam mata elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”
-Pramoedya Ananta Toer

Friday, June 29, 2012

The Prince of Mist - Carlos Ruiz Zafon

ss
The Prince of Mist - Carlos Ruiz Zafon
Paperback, Phoenix Publisher, 1993, 202 pages

Max berusia tiga belas tahun ketika ayahnya memutuskan untuk membawa keluarganya keluar dari kota dan pindah ke desa kecil di tepi pantai. Saat itu tahun 1943 dan perang sedang berlangsung, sehingga pindah ke kota kecil merupakan langkah tepat.


Di kota ini, mereka tinggal di sebuah rumah yang sebelumnya ditempati oleh keluarga Dr.Fleischmann yang anaknya meninggal karena kecelakaan tragis. Dan seperti yang bisa ditebak, Max dan saudari-saudarinya Irina dan Alicia perlahan mulai menemukan hal-hal yang aneh tentang rumah ini. Ketika suatu hari Irina terjatuh dari tangga secara misterius sehingga harus dirawat di rumah sakit, Max mulai yakin rumah ini berhantu.

Max dan Alicia mulai mencari tahu lebih lanjut tentang rumah yang mereka tempati dan desa misterius ini. Dibantu oleh teman baru mereka, seorang anak angkat penjaga mercusuar bernama Roland. Ternyata mereka tidak hanya menemukan hantu dalam perjalanan mereka; tapi juga kucing aneh, patung yang bisa bergerak, kapal-kapal kosong yang sepertinya "berpenghuni" dan The Prince of Mist, sosok kegelapan yang dapat mengambil wujud apa saja..

Buku ini hanya berukuran mass market paperback, setebal 202 halaman, dengan font yang cukup besar, tapi cukup untuk membuat pembaca bermimpi buruk.Bagi pembaca karya Stephen King pasti sudah tidak asing lagi dengan bukunya yang berjudul "It", berkisah tentang fobia orang-orang terhadap satu mahluk yang anak-anak cintai tapi orang dewasa benci--badut. Di buku The Prince of Mist sendiri menyertakan sosok badut yang menurut saya merupakan bagian paling menyeramkan dalam buku ini; yang tak lain dan tak bukan adalah The Prince of Mist sendiri.

Sayangnya, Carlos Ruiz Zafon tidak mengembangkan plot dasar yang menurut saya sudah sangat menjanjikan ini, menjadi setidaknya 100 atau 200 halaman lebih panjang. Sehingga, ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika saya menutup buku ini, yang rasanya sayang sekali tidak dijelaskan oleh sang penulis karena ini mengganggu relevansi cerita. Mungkin pertanyaan-pertanyaan saya ini akan terjawab di lanjutan buku yang ternyata berseri ini. Tapi hal ini cukup terobati dengan karakter-karakter yang menarik dan prosa yang memukau. Buku ini diceritakan dengan detil yang kaya sehingga terasa sinematik, namun tidak kehilangan sisi puitisnya. Dan jangan lupakan kehororannya yang cukup membuat bulu kuduk merinding ketika dibaca di tengah malam yang sunyi..

3 bintang untuk The Prince of Mist.

Memorable Quotes “Age makes you notice certain things. For example, I now know that a man’s life is broadly divided into three periods. During the first, it doesn’t even occur to us that one day we will grow old, we don’t think that time passes or that from the day we are born we’re all walking toward a common end. After the first years of youth comes the second period, in which a person becomes aware of the fragility of life and what begins like a simple niggling doubt rises inside you like a flood of uncertainties that will stay with you for the rest of your days. Finally, toward the end of life, the period of acceptance begins, and, consequently, of resignation, a time of waiting.”

:

Monday, October 31, 2011

Anna and the French Kiss

“I love you as certain dark things are loved, secretly, between the shadow and the soul.” - Anna and the French Kiss


 Jujur saja, ketika teman-teman dari BBI sepakat untuk membaca satu buku romance bersama di bulan ini, saya kelimpungan. Saya tidak punya buku romance yang belum terbaca! Setelah mengubek-ngubek rak buku selama beberapa menit, mata saya menangkap satu judul buku.
"Anna and the French Kiss". Judul ini saat itu seolah dikelilingi lampu-lampu kecil yang bersinar-sinar, seperti tulisan di sebuah pementasan kabaret. *lebay*
Kaver bukunya yang menampilkan seorang model perempuan yang sedang tersenyum manis, hendak meraih tangan seorang pria di sebelahnya yang wajahnya tak nampak, dengan tampilan separuh menara Eiffel sebagai background dan judul yang provokatif membuat saya yakin bahwa ini akan menjadi satu bacaan yang manis. Terlebih lagi, ada banyak sekali review positif dari buku ini yang bertebaran di Goodreads atau blog-blog buku.

Lima sampai sepuluh halaman pertama, saya masih belum mengerti mengapa buku ini mendapat perhatian sedemikian rupa. Plotnya sangat sederhana, tipikal malah:
Anna Oliphant "dikirim" oleh ayahnya ke Paris untuk melanjutkan tahun terakhir SMA-nya di sana; padahal dia sudah punya segudang rencana untuk menghabiskan tahun ini di Atlanta bersama sahabatnya, Bridge, dan pacarnya Toph. Dia sama sekali tidak tertarik akan Paris dan segala keromantisannya, malahan dia takut akan merasa kesepian, kangen rumah, dan tidak punya teman di sana. Dengan segala kekhawatirannya, dia berangkat ke Prancis, tanpa tahu satupun kata dalam Prancis - kecuali Merci - sambil membawa kekesalan besar pada ayahnya.

Tapi segalanya berubah saat dia akhirnya masuk ke SOAP (School of America in Paris) yang didaftarkan Ayahnya, sekolah elit yang dipenuhi beraneka ragam orang di sana. Tak disangka dia dengan mudah berteman dengan Meredith, Rashmi, Josh dan Ettiene St.Clair, cowok Inggris tampan yang diidolakan banyak cewek di sekolahnya.


Akhirnya bisa ditebak, bukan? Anna naksir St.Clair, St.Clair naksir Anna, lalu mereka berciuman di bawah Menara Eiffel. The end.


Plotnya, meskipun simpel, tetap saja tidak sesimpel tulisan asal saya di atas. Meski kisah mereka memang  happy ending - cover semanis ini kalau ceritanya tidak happy ending rasanya keterlaluan - tapi tetap saja, penuh liku. Tapi yang menjadi poin plus buku ini, dan memang inilah alasan mengapa banyak orang menyukainya, adalah: cerita dan karakternya begitu realistis. Tidak ada perpisahan dramatis, atau kematian yang mengharu biru. Semuanya berjalan dengan smooth dan santai, tapi Stephanie dengan apik meramu cerita yang terdengar klise menjadi sesuatu yang tidak membosankan. Tidak ada ledakan emosi yang meluap-luap atau sub-plot yang berlebihan. Rasanya seperti mendengar curhatan teman yang lama tidak dijumpai. Rasanya nyata. 


Karakter-karakternya juga menyenangkan. Tidak seperti karakter novel yang melewati banyak hal seru sampai-sampai kita ingin sekali menjadi temannya di dunia nyata, tapi lebih seperti teman yang ceritanya dibukukan lalu kita baca. Dari semua karakter, tentu saja karakter favorit saya Etienne St.Clair. Perlu tanya lagi yah? Dia pintar, sayang banget sama Mamanya, dan dia BRITISH. Need I say more?


Dan satu lagi aspek penting dari buku ini yang tak boleh ketinggalan dibahas: romance. Sebagai orang yang tidak terlalu suka buku romance, saya sangat puas dengan kadar romance di buku ini. Pas! Tidak lebih, tidak kurang. Sangat realistis, menurut saya. Saya paling suka bagian saling berbalas e-mail di buku ini. Manis sekali :)


All in all, buku ini cocok untuk dibaca ketika sedang suntuk dan ingin membaca buku ringan dan cepat habis, setelah lama membaca buku-buku yang topiknya bikin puyeng, ditemani segelas minuman hangat dan cuaca yang gloomy, supaya bisa semangat lagi!


4/5 stars.