Monday, July 1, 2013

Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya - Dewi Kharisma Michellia


Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Jumlah halaman: 240 hlm
Rilis: Juni 2013 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9789792296402

 
Ada sepasang manusia yang saling menganggap dirinya adalah alien. Tersesat, berbeda, dan asing dibandingkan manusia-manusia lain di sekelilingnya. Tak pernah cukup tahu bagaimana menempatkan diri di tengah kumpulan manusia yang seragam. Kedua alien ini saling menemukan kecocokan dalam keasingan mereka. Lalu mereka berteman. “Kau bilang kita dapat mengirimkan sinyal-sinyal yang hanya kita saja yang tahu. Kau bilang kita barangkali adalah pasangan alien sejati.”

Tapi seharusnya mereka tahu perempuan dan laki-laki takkan kuat berteman tanpa jatuh cinta. Sepasang laki-laki dan perempuan yang hendak berteman harusnya diberi semacam buku panduan yang isinya peringatan bahwa mereka akan jatuh cinta dan tersakiti. Tapi mereka alien – mereka tak tahu. Dan ya, mereka jatuh cinta. Tanpa mengatakan apapun. Tapi lalu waktu bergulir, dan mereka tumbuh dewasa, dan hidup berpisah. Ikrar yang mereka ucapkan di bawah pohon beringin, dengan kelingking saling bertautan, terlupakan setelah puluhan tahun lamanya dan terhapus oleh kartu undangan pernikahan Tuan Alien dengan seorang perempuan lain, seorang manusia normal. “Aku terlambat menyadari, aku tak akan selamanya bisa bergantung padamu.

Tokoh Aku (atau mari kita sebut saja dengan "Nona Alien") lalu mulai menuliskan serangkaian surat panjang untuk Tuan Alien yang isinya rentetan kejadian dalam hidupnya setelah Tuan Alien tak lagi menjadi bagian dalam harinya. Ada sebundel surat yang dikirimnya untuk sekadar menarik Tuan Alien ke masa lalu, namun tak dapat membawanya ke masa depan. Karena semuanya sudah terlambat. “Bagiku kini, jarak kita telah mencapai jarak yang harus ditempuh selama jutaan tahun cahaya.”

Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya adalah sebuah novel epistolari tentang kisah klasik tentang penyesalan dan harapan-harapan rahasia. Tentang kata dan yang tak terucap. Tentang sejarah dari apa yang mampu direkam dan apa yang hanya diketahui oleh dua alien ini. Tentang kisah cinta yang tak berakhir karena tak pernah berawal. “Dan karena kita melupakan janji kita di bawah pohon beringin itu.”

Surat-surat yang ditulis Nona Alien ditulis murni untuk menceritakan kehidupannya kepada Tuan Alien, sebagai ucapan selamat tinggal dan selamat menempuh hidup baru. Novel ini dipenuhi dengan detil-detil kecil dan karakter yang tak pernah langsung bersinggungan dengan Tuan Alien, tapi memegang peranan penting dalam kehidupan Nona Alien. Banyak sekali kisah yang diceritakan, mulai dari keluarga Nona Alien yang bersuku Bali, hingga kesehariannya sebagai jurnalis dan kecintaannya pada buku-buku.

Jangan berharap akan menemukan suara Tuan Alien karena jejaknya di buku ini kecil sekali, dan poin ini sangat saya sayangkan karena saya berharap porsi cerita tentang Tuan dan Nona Alien di masa lalu sedikit lebih banyak. Tapi saya menyukai struktur ceritanya yang non-linear dan tak berurutan karena saya suka buku-buku yang cenderung tak berplot dan lebih banyak bertutur. Namun terlalu banyaknya subplot yang diceritakan dalam buku ini membuat plot utamanya menjadi kurang fokus dan itu berpotensi membuat pembaca cepat merasa bosan. Ada terlalu banyak hal yang terjadi dalam hidup Nona Alien yang cenderung mustahil dan itu membuat karakternya kadang menjadi terkesan berjarak dengan pembaca, apalagi dengan karakter Nona Alien yang datar dan antisentimentil.

Mengetahui akhir buku ini seperti mengetahui sebuah rahasia. Saya sesak dan berpikir keras sesudahnya, bagaimana cerita (atau ganti saja kata tersebut dengan “hidup”) ini akan lebih mudah jika semua yang kita pikir dan rasakan dapat tertuang dalam kata. Atau jika kata-kata tak dilahirkan sekalian. Karena ada begitu banyak kebahagiaan yang tertahan karenanya. Ah, alangkah gegabahnya kata, mencoba mengubah takdir yang tak dapat melenceng.

“Bahkan dalam mimpi, kita tak pernah punya kesempatan bicara...”


5/5 bintang.


4 comments:

  1. wowww 5/5! Bikin penasaran aja deeeh :D dan hmmm kisahnya kayaknya kok bisa relate sama sebagian besar pembaca ya? siapa sih yang nggak pernah ngalamin tragedi kayak si nona alien ini? (kok jd curcol, blah)

    ReplyDelete
  2. sempet skimming di toko buku, suka penulisannya sih, tapi waktu itu masih ragu mau beli

    ReplyDelete
  3. mencoba mengubah takdir yang tak dapat melenceng, thanks atas infonya

    ReplyDelete
  4. ini pengen baca tapi ngga nemu2...nasib..>_<

    ReplyDelete