Monday, May 6, 2013

Katarsis - Anastasia Aemilia

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Jumlah halaman: 264 hlm
Rilis: April 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9789792294668

Sebuah rumah di Bandung milik keluarga Johandi dirampok dengan sadis. Tiga orang tewas mengenaskan. Hanya dua yang selamat. Arif Johandi, masih dalam keadaan kritis karena banyak luka tusukan di sekujur tubuhnya. Keponakannya, Tara Johandi, si “Gadis yang Selamat Itu’, ditemukan dengan keadaan mengenaskan di dalam kotak perkakas yang ukurannya tak lebih daripada kandang anjing. Kedua tangannya diikat borgol. Polisi telah menangkap dua perampok yang diyakini sebagai pelakunya, yaitu Martin Silado dan Andita Pramani. Tapi bukti-bukti yang terkumpul justru mengarah ke hal lain. Maka itu, polisi berusaha mengorek informasi dan kesaksian dari Tara. Namun Tara masih syok berat. Maka Alfons, psikiaternya, dipanggil untuk memulihkan psikis Tara, setidaknya sampai Tara cukup stabil untuk dimintai keterangan. Dengan metode katarsis, yaitu dengan menghilangkan trauma atas sesuatu dengan secara menceritakan segalanya.


Namun tidak semudah itu.

Tara ternyata memiliki masa lalu yang lebih memusingkan daripada labirin. Pikiran dan tindak-tanduknya dipenuhi keganjilan. Belum lagi dengan kehadiran seorang pria bernama Ello, dan bersamaan dengan itu, sebuah kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Ello bisa membantu Tara menyembuhkan traumanya? Apakah benar Martin dan Andita pembunuh keluarganya?

Kesan pertama saya ketika melihat buku ini sebelum membacanya adalah: ngeri. Kavernya sederhana, hanya sebuah gambar kecil di tengah lalu latar warna cokelat di belakangnya. Nuansa ngeri itu terus terasa selagi saya membaca. Buku ini pada awalnya memakai sudut pandang Tara, yang lalu menyusupkan berbagai peristiwa di masa lalunya yang membantu pembaca mengerti siapa dirinya. Peristiwa-peristiwa tersebut menekankan bahwa Tara adalah sosok yang terganggu mentalnya, sejak kecil mencintai kekerasan, selalu menolak afeksi, dan sedikit skizofrenik.  Namun persepsi saya tentang siapa Tara perlahan-lahan runtuh sejak Tara tinggal bersama Alfons, ditambah lagi ketika karakter Ello mulai muncul. Tara menjadi gadis yang bergantung pada Alfons, dipenuhi ketakutan, dan mulai membiarkan dirinya merasa bahagia di dekat Ello. Hilang sudah Tara yang membuat saya ngeri di awal buku. Hal ini sedikit menganggu buat saya karena pengembangan karakter memang penting, tapi pengembangan karakter Tara menurut saya terlalu berlebihan, tanpa disertai alasan dan latar belakang yang cukup.

Pergantian sudut pandang ke karakter Ello juga menurut saya kurang halus. Perbedaan suara di antara keduanya kurang kentara, karena baik suara yang dimiliki Tara dan Ello sama-sama dingin dan maskulin. Mungkin jika penulis bertujuan untuk menyisipkan lebih banyak detil mengenai karakter Ello tanpa melupakan Tara, lebih baik digunakan sudut pandang ketiga agar masing-masing suara tersampaikan dengan porsi yang tepat.

Menurut saya buku ini memiliki banyak irrelevansi, tapi semua itu tidak cukup untuk menutupi betapa menegangkannya buku ini. Mungkin jika Katarsis dibuat sedikit lebih panjang agar bisa memuat lebih banyak cerita mengenai Ello, pertanyaan-pertanyaan saya akan terjawab. Mengingat buku ini adalah debut sang penulis, saya mengangkat dua jempol untuk gaya penulisannya yang sangat luwes. Saya sangat berharap penulis akan menelurkan lebih banyak buku di masa mendatang.

3/5 bintang.

10 comments:

  1. seperti biasa, reviewnya mengundang untuk membaca bukunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you udah baca reviewku, Kak Sulis ^^ ayo baca bukunya! Hihihi

      Delete
  2. Katarsisnya diceritain secara medis dan detil ga mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak sih, malah adegan Tara berkatarss dengan psikiaternya sedikit, lebih banyak dia cerita langsung ke pembaca.

      Delete
  3. Kayaknya aku bakal suka baca review-nya ndari dibanding baca bukunya deh (^_^)/

    ReplyDelete
  4. Lagi baca nih novel.... baru kali ini penulis indonesia punya genre seperti ini...

    ReplyDelete